Hampir 97 Persen Server yang Terdata Masih Gunakan PHP Usang, Risiko Siber Jadi Sorotan
- account_circle Hanken surya
- calendar_month Selasa, 27 Okt 2026
- print Cetak

Hampir 97 Persen Server yang Terdata Masih Gunakan PHP Usang ( Foto Ilustrasi artificial lambeku )
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lambeKu.com – Keamanan infrastruktur digital kembali menjadi perhatian setelah sebuah pemindaian terhadap server publik di Indonesia menemukan tingginya penggunaan versi PHP yang sudah tidak memperoleh dukungan keamanan resmi.
Temuan yang dipublikasikan pada 26 Oktober 2026 itu menunjukkan bahwa 96,7 persen versi PHP yang berhasil diidentifikasi pada sampel server pemerintah berdomain .go.id masih berada pada kategori end-of-life atau EOL. Kondisi serupa ditemukan pada sampel server perusahaan berdomain .co.id.
Data tersebut berasal dari pemindaian internet yang dilakukan hingga 23 Oktober. Dari 99.896 kecocokan versi PHP yang terdeteksi secara keseluruhan, sebanyak 69.546 atau sekitar 69,6 persen menggunakan versi yang sudah berakhir masa dukungannya.
Versi perangkat lunak yang tidak lagi menerima pembaruan keamanan resmi dapat menimbulkan risiko ketika ditemukan celah yang dapat dimanfaatkan penyerang. Salah satu kerentanan yang menjadi perhatian dalam laporan tersebut dikenal dengan nama PHP2Shell.
Kerentanan itu dikaitkan dengan potensi eksekusi kode dari jarak jauh pada sistem yang terdampak. Dalam skenario serangan tertentu, kelemahan semacam ini dapat membuka peluang bagi penyerang untuk menjalankan perintah tanpa izin apabila sistem belum terlindungi.
Meski demikian, angka pemindaian tersebut tidak berarti seluruh situs pemerintah atau perusahaan Indonesia telah diretas. Data menggambarkan versi perangkat lunak yang terdeteksi pada sampel layanan publik, bukan bukti terjadinya kompromi pada setiap server.
Pengelola sistem teknologi informasi perlu memeriksa versi PHP yang digunakan, memastikan pembaruan keamanan telah diterapkan, dan mengevaluasi apakah aplikasi lama masih aman untuk dioperasikan. Pembaruan perlu direncanakan dengan pengujian yang memadai agar tidak mengganggu layanan penting.
Dalam lingkungan yang masih menjalankan aplikasi lama, proses migrasi dapat menjadi tantangan karena perubahan versi perangkat lunak mungkin memerlukan penyesuaian kode. Karena itu, audit sistem, pencadangan data, pembatasan akses, pemantauan log, dan penerapan perlindungan jaringan menjadi bagian penting dari pengelolaan risiko.
Pengguna internet juga perlu memahami bahwa keamanan situs bukan hanya bergantung pada tampilan atau kelancaran layanan. Pemeliharaan perangkat lunak dan pengelolaan akses secara berkala menjadi bagian mendasar untuk menjaga data serta layanan digital.
Temuan ini menjadi pengingat bagi organisasi yang mengelola situs dan aplikasi daring agar tidak menunda evaluasi keamanan. Namun, tingkat risiko pada setiap sistem tetap harus ditentukan melalui pemeriksaan teknis, termasuk versi yang digunakan, konfigurasi, serta status penerapan perbaikan keamanan.***
- Penulis: Hanken surya

Saat ini belum ada komentar