Indonesia Bidik Hub Data Center di Batang, Karimun, dan Bintan, Ini Alasan Pemilihan Lokasinya
- account_circle leksana
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Indonesia Bidik Hub Data Center di Batang, Karimun, dan Bintan, Ini Alasan Pemilihan Lokasinya
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lambeKu.com – Pemerintah Indonesia mendorong pengembangan pusat data atau data center di Batang, Jawa Tengah, serta Pulau Karimun dan Bintan di Kepulauan Riau.
Rencana ini menjadi bagian dari upaya memperkuat infrastruktur digital nasional dan mengembangkan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan rencana tersebut dalam ajang Bali Tech Week 2026 di Sanur, Bali, Senin (19/10/2026).
Menurut Bahlil, Asia Tenggara telah memiliki pusat data yang berkembang di Malaysia dan Singapura.
Indonesia ingin mendorong hub baru dengan memanfaatkan potensi kawasan industri dan sumber daya energi yang tersedia.
Mengapa Batang, Karimun, dan Bintan?
Pengembangan pusat data membutuhkan sejumlah fasilitas pendukung, mulai dari pasokan listrik yang stabil, sistem pendinginan, hingga ketersediaan air untuk kebutuhan operasional tertentu.
Pemerintah mempertimbangkan wilayah yang memiliki pasokan air memadai dan kepadatan penduduk lebih rendah dibandingkan sejumlah kawasan padat seperti Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat.
Ketersediaan lahan serta potensi energi terbarukan juga menjadi pertimbangan penting. Pusat data yang mendukung layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan membutuhkan infrastruktur dengan kapasitas tinggi serta keandalan operasional sepanjang waktu.
Karena itu, pemilihan lokasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan gedung, tetapi juga kesiapan jaringan listrik, konektivitas telekomunikasi, dan pengelolaan sumber daya.
Indonesia Punya 204 Fasilitas Data Center
Berdasarkan data yang dikutip Katadata dari DataCenterMap, Indonesia tercatat memiliki 204 fasilitas pusat data pada September 2026. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia di posisi keempat di Asia, setelah China, India, dan Jepang.
Jakarta masih menjadi lokasi dengan konsentrasi pusat data terbesar. Batam juga menjadi salah satu kawasan yang berkembang, didukung posisinya yang dekat dengan Singapura dan jalur konektivitas internasional.
Pertumbuhan pusat data sejalan dengan meningkatnya kebutuhan layanan digital, komputasi awan, penyimpanan data, dan pemrosesan AI.
Tantangan Listrik dan Lingkungan
Meski berpotensi menarik investasi, pembangunan pusat data juga menghadirkan tantangan. Konsumsi listrik dan kebutuhan air yang tinggi perlu diperhitungkan agar tidak membebani masyarakat maupun lingkungan sekitar.
Pemerintah menyampaikan target pengembangan energi terbarukan dan penambahan kapasitas pembangkit untuk mendukung kebutuhan industri. Namun, realisasi target tersebut tetap membutuhkan perencanaan, investasi, dan pembangunan infrastruktur.
Kajian lingkungan, pengelolaan air, serta transparansi perizinan juga penting untuk memastikan investasi memberikan manfaat jangka panjang.
Jika dikelola dengan baik, pengembangan hub data center berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi digital Asia Tenggara.
Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan infrastruktur teknologi berjalan seiring dengan ketersediaan energi, perlindungan lingkungan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.***
- Penulis: leksana

Saat ini belum ada komentar