Survei Ungkap 91 Persen Pengemudi Ojol Punya Utang, Beban Hidup Makin Berat
- account_circle leksana
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Survei Ungkap 91 Persen Pengemudi Ojol Punya Utang ( Foto ilustrasi artificial lambeku )
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
lambeKu.com – Kondisi ekonomi pengemudi ojek online (ojol) kembali menjadi perhatian setelah sebuah riset mengungkap sebagian besar pekerja sektor transportasi berbasis aplikasi masih memiliki utang atau cicilan aktif.
Riset IDEAS yang dirilis pada September 2026 menunjukkan sekitar 91 persen pengemudi ojol yang disurvei memiliki utang atau cicilan yang masih berjalan.
Temuan ini menggambarkan tekanan keuangan yang dihadapi pekerja sektor informal di tengah kebutuhan rumah tangga dan biaya operasional pekerjaan.
Beban tersebut tidak seluruhnya berasal dari pinjaman konsumtif. Sejumlah pengemudi menggunakan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan alat kerja, seperti kendaraan dan telepon genggam. Sebagian lainnya memiliki kewajiban dari pinjaman online maupun pinjaman kepada keluarga dan teman.
Riset tersebut juga mencatat sekitar 25,7 persen responden memiliki sisa utang atau cicilan lebih dari Rp20 juta. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian pengemudi harus menanggung kewajiban keuangan dalam jumlah yang cukup besar.
Tekanan semakin terasa ketika pendapatan bersih tidak selalu sebanding dengan kebutuhan hidup.
Dalam temuan yang sama, sekitar 51 persen pengemudi memperoleh pendapatan bersih di bawah Rp75.000 per hari setelah dikurangi biaya operasional.
Sementara itu, sekitar 85,7 persen responden yang memiliki utang menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa utang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlangsungan kehidupan sehari-hari.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan layanan transportasi digital perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kesejahteraan mitra pengemudi.
Pendapatan bersih, biaya operasional, akses pembiayaan yang sehat, serta perlindungan pekerja menjadi sejumlah persoalan yang perlu dibicarakan.
Bagi masyarakat, temuan tersebut juga mengajak publik melihat profesi pengemudi ojol dari sisi yang lebih luas.
Di balik kemudahan layanan yang dinikmati pengguna, terdapat pekerja yang harus mengelola risiko pendapatan dan kewajiban keuangan setiap hari.***
- Penulis: leksana

Saat ini belum ada komentar